AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Zidan Butuh Suaka Kangen Band dan Kaedah Nanos Gigantum Humeris Insidentes

Sepertinya Zidan dan Tri Suaka perlu banyak membaca, bukan saja banyak menyanyi. Kalaupun banyak menyanyi, tak apa asal tau asal usul, hak dan kewajibannya sebagai penyanyi yang menyanyikan lagu karya orang lain. Kurang banyak membaca, tidak paham asal usul, dan kurang menghormati penyanyi lain mungkin yang bikin mereka lupa mereka hidup, mencari kehidupan dan bertahan hidup dalam industri hiburan yang memiliki hukum moralnya sendiri. Sebagai pengamen atau penyanyi jalanan yang tengah naik daun dan berpenghasilan, Zidan dan Tri Suaka yang memang banyak orang yang suka, sebaiknya hati-hati dan penuh rasa hormat pada sesama musisi.

Di laporkan, usai membuat video yang memparodikan gaya bernyanyi Andika, vokalis Kangen Band saat menyanyikan lagu Selingkuh dan Penantian yang Tertunda, lansung sebanyak 10 ribu lebih subscriber Youtube Tri Suaka maupun Zinidin Zidan kompak Unscribe, lenyap. Mereka berdua baru saja mendapat hukum moral dari industri hiburan yang bertransformasi dari hiburan media konvensional ke media baru.

Untuk diketahui, tidak banyak grup band anak muda, musikus atau penyanyi Indonesia yang mendapat perhatian dari peneliti asing untuk diteliti dan hasilnya dipublikasi di jurnal internasional seperti Kangen Band. Grup musik asal Lampung, Kangen Band termasuk yang menarik perhatian peneliti asal Monash University, Emma Baulch. Melalui riset dan dipublikasikan dengan judul Longing Band play at Beautiful Hope  yang terbit di International Journal of Cultural Studies tahun 2013, Emma ingin menyelidiki dimensi kontekstual konsumerisme Indonesia dengan menghadirkan kebangkitan nasional dari Kangen (Longing) Band. Penelitian tersebut menemukan bahwa perilaku konsumerisme Indonesia memerlukan cara baru untuk menggerakkan massa dengan bermain teman kampungan (atau khas budaya lokal (Melayu).

Karena itu saya hormat pada Kangen Band. Saya sendiri mulai menyukai Kangen Band melalui lagu Juminten lewat album Pujaan Hati yang dirilis tahun 2009. Lagu ini berhasil mencuri perhatian saya karena sedikit mampu membangkitkan nasionalisme dan harga diri warga pinggiran peradaban.

Saya semakin suka dengan Kangen Band karena perjalanan kisah grup Band ini yang penuh histori tentang penderitaan khas anak muda yang berada di tepi terpinggir modernitas dalam arus besar industri musik televisi saat itu.  Kemudian Kangen Band beruntung setelah diangkut oleh sebuah industri musik nasional. Saat itu saya sudah mbatin, ini anak-anak muda keren, kalau tak kuat iman dan tak tahan godaan industri hiburan, bisa hanyut dan karam dalam berbagai permainan.

Dugaan itu terbukti saat vokalis Andika tersangkut berbagai kasus khas selebritis. Andika yang saat itu selalu tampil pede dengan gaya rambut Uchiha Sasuke, sehingga mempopulerkan istilah Bambang Tamvan, hingga saat ini istilah tersebut masih cukup popular di kalangan pelaku hiburan. Rasa percaya diri yang tinggi, mungkin tidak terlepas dari kepercayaan diri terhadap kemampuannya dalam melahirkan karya musik yang disukai masyarakat Indonesia hingga luar negeri.

Bagaimana dengan Suaka dan Zidan?

Tri Suaka, pengamen asal Yogyakarta ini juga fenomena yang menarik. Awalnya saya suka, dan beberapa kali menganjurkan mahasiswa saya untuk menjadikannya tema riset skripsi atau tesis mereka. Bahkan, saya sempat mengajak putri saya untuk menyaksikan mereka  ngamen di Pendopo Lawas, Yogyakarta. Tipikal suara Tri sebenarnya bukan selera saya, tapi manajemen panggung ngamennya yang saya suka. Bagi saya manajemen ngamen Tri Suaka ini bisa menjadi model sekaligus rute perlawanan terhadap industri kapitalisme hiburan. Posisinya sangat jelas, dari jalanan, dari kaki lima Yogyakarta kita lawan dominasi industri hiburan global. Fenomena ini bukan hal baru, di Kuala Lumpur Malaysia juga ada hal serupa seperti pengamen Bob Buskers atau di London ada juga pengamen jalanan Allie Sherlock yang bersuara serak-serak basah melengking.

Saat mulai menyukai Tri Suaka, 2 hal yang saya pikirkan saat itu:

Pertama, jika Tri Suaka mulai populer, pasti kapitalisme akan merangkulnya sebagai aset. Apakah Tri dapat bertahan dalam arus kapitalisme dan kuat menahan godaan tersebut? Ini berat…

Kedua, Tri Suaka banyak menyanyikan lagu karya musisi lain. Bagaimana royaltinya? Sebab ini bukan sekedar ngamen untuk sekedar mencari makan bertahan hidup. Saat masuk industri, untung rugi menjadi hal sensitif. Saya hanya berharap, manajemen Tri dapat mengantisipasi hal-hal seperti ini. Setidaknya, memberi rasa hormat dan pengakuan pada pencipta lagu atau musisi yang menyanyikan lagu asli pada setiap kali mereka akan menyanyi lagu musisi lainnya.

Dalam dua konteks tersebut, Tri Suaka bukan lagi pengamen, tapi pelaku industri hiburan dalam konteks baru, yaitu media baru yang memiliki karakter yang sama sekali berbeda dengan media konvensional. Lingkungan media baru ini yang harus mereka pahami.

Saya membayangkan, ‘di belakang’ manajemen Tri Suaka sudah ‘menyelesaikan’ segala urusan dengan musisi asli. Sejurus dengan itu, manajemen juga sudah membriefing Tri Suaka dan penyanyi lainya untuk memberi hormat pada musisi yang lagunya mereka nyanyikan. Rasa hormat dan pengakuan itu penting.

Dalam dunia akademik ada kaedah Nanos Gigantum Humeris Insidentes (standing on the  shoulder of giants, berdiri di pundak raksasa). Kaedah ini bermula saat Isaac Newton  yang berkirim surat pada sahabatnya Robert Hooke tahun 1676. Nanos Gigantum Humeris Insidentes, sebuah kalimat yang menurut John of Salisbury ditulis oleh Bernard of Chartres di abad 12 dan versi bahasa Inggrisnya, standing on the shoulder of giants dipopulerkan oleh Isaac Newton dalam suratnya kepada Robert Hooke pada tahun 1676. Jika peneliti ingin membahas/menulis suatu topik tertentu, dia seharusnya membaca atau  mengutip karya  orang lain yang relevan. Sebab topik apapun yang dibahas pasti sudah pernah atau terkait dengan penelitian sebelumnya. Akui dan hormati penulis dan peneliti sebelum Anda. Kaedah ini penting menjadi pegangan moral pengamen jalanan atau penyanyi kafe.

Kalau pengamen hanya suka menyanyi, tapi tidak suka membaca, tugas manajemen yang haru mengisi ruang kosong ini agar dunia hiburan kita benar-benar bersih dari keriuhan seperti parodi yang dilakukan Tri Suaka dan Zidan. Ini tidak patut terjadi jika sesama penyanyi, musisi dan pengamen saling menghargai dan menghormati. Jangan lupa pada masa sulit sebelum sukses melalui jempol dewan subscriber di majelis Youtube yang berdaulat penuh pada karir ngamen kalian.

Sementara itu, bagaimana dengan Zidan sendiri? Mohon maaf, suara dan gaya Zidan bukan tipikal yang saya suka. Saya lebih suka suara garang pengamen Astroni Tarigan, Hans Right Hutagaol, suara manja Sallsa Bintan atau suara serak batuk dari mantan Sekretaris saya, Evony Arty. Silahkan saja cek Youtube mereka dan nikmati suaranya…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button