AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Topi Sinterklas Dan Aksi 212

Desember tahun 2010, pertama kali saya melihat salju di Belanda dan Belgia. Bukan saja rintik salju yang sedang turun, tetapi tumpukan dan semua yang terlihat seperti dibungkus kapas putih yang tebal. Saya sangat takjub menyaksikan alam raya, sejauh mata memandang putih seperti disiram tepung beras.

Seorang sahabat saya umat Kristiani, terkesan ‘iri’ melihat saya merasakan ‘Natal Putih’. “Hebat Pak Is bisa merasakan natal putih. Itu impian saya sejak kecil”, ujarnya.

Saya tanya, “Natal putih?” Oh iya, rupanya ini semacam suasana kebatinan religius yang tidak bisa saya rasakan, tapi harus saya hormati. Karena itu tidak perlu saya sampaikan di sini.

Pada beberapa titik di sudut kota di Belanda dan Belgia terlihat orang mengenakan topi dan kostum Sinterklas. Bagi saya, tidak ada yang aneh. Walau Sinterklas identik dengan simbol umat Kristiani, tapi menurut saya dia tidak identik dengan keyakinan.

Hingga tahun 2014 saya ketemu seorang teman yang mengeluh karena ‘dipaksa’ dan ‘ditekan’ oleh majikannya menggunakan topi Sinterklas untuk melayani konsumen.

Dari sini kemudian saya melihat, hal ini bukan persoalan keyakinan, tapi persoalan relasi antara majikan dan pekerja. Ketimpangan hirarkis antara majikan dan pekerja digunakan untuk ‘menekan’ atau ‘memaksa’ bawahan menggunakan topi Sinterklas.

Bagi saya, jika tidak ada usaha ‘menekan’ dan ‘memaksa’ dari majikan terhadap karyawannya untuk menggunakan topi Sinterklas, cukup indah juga melihat itu sebagai potret sosial yang penuh warna dan keceriaan. Sambil berharap, semoga pekerja dari umat non muslim juga dapat berbusana muslim saat Ramadan atau Idul Fitri.

Kemudian diam-diam semua berjalan apa adanya, mulailah marak para pekerja mengenakan topi Sinterklas. Tapi banyak yang tidak tau pemakaian itu diawali dengan ‘pemaksaan’ dan ‘tekanan’. Isunya menjadi sensitif, minoritas memaksa mayoritas karena alasan toleransi. Memang ada suara yang menolak, tetapi terdengar sayup ditelan derasnya arus wacana toleransi dan liberalisasi pemikiran keagamaan. Senyap…

Nah, lantas mengapa saat ini hal tersebut terasa lebih kuat penolakannya?

Analisis ini berdasarkan pengamatan saya, jika keliru mohon diluruskan. Saya tidak membahas ini dari perspektif hukum atau syari’at. Konsen saya adalah relasi kuasa yang menciptakan berbagai pergeseran dan perubahan realitas. Pada zaman Orde Baru fenomena ini tidak ada, baru pada zaman reformasi mulai ada dan marak. Tapi saat ini ada penolakan keras penggunaan topi Sinterklas. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Saya ingin mulai dari era liberalisasi politik pasca Orde Baru yang berdampak juga pada liberalisasi ekonomi dan liberalisasi pemikiran keagamaan. Pendek kata, kita masuk ke dalam tabung liberalisasi berbagai sektor kehidupan.

Liberalisasi dengan mudah dapat ditandai oleh berlangsungnya desakralisasi. Tidak ada lagi yang sakral, semua dapat dipertanyakan.

Muslim sebagai mayoritas didesak untuk toleran pada minoritas. Sebagai bagian dari kelompok muslim, sebenarnya saya punya refleksi khusus terhadap hal ini. Misalnya, menjalar fikiran bahwa toleran itu seharusnya berlangsung dua arah, bukan satu arah. Tapi karena gelombang besar liberalisasi pemikiran demikian deras, berakibat ‘suara halus’ itu lenyap tak terdengar. Sayapun mulai beradaptasi dengan perubahan. Saya anggap ini bentuk toleransi.

Namun belakangan mulai terasa ada yang aneh dan tidak wajar. Seharusnya relasi yang terbangun adalah mayoritas melindungi minoritas, sedangkan minoritas menghormati mayoritas. Tapi yang terjadi kemudian adalah proses melemahkan mayoritas. Dari awal saya sudah merasakan, jika memang ini yang terjadi tentu sangat bahaya. Sehingga dalam suatu kesempatan saya pernah posting status di Facebook; “Melindungi minoritas itu kewajiban. Melemahkan mayoritas itu kebodohan”.

Umat muslim sebagai mayoritas merasa dilemahkan oleh gelombang liberalisme. Beberapa kasus yang menonjol sebagai bentuk pelemahan itu antara lain misalnya kebebasan membuka warung saat bulan puasa atau stigmatisasi muslim sebagai teroris, pembatasan takbir keliling pada Idul Fitrir, kurang besarnya perayaan hari besar Islam (maulid tidak lagi disiarkan oleh stasiun TV), dll.

Di sosial media saat itu tergambar jelas, siapa saja yang berbeda dengan arus utama liberalisasi pemikiran itu, dlibully beramai-ramai menggunakam akun robot. Saya termasuk salah satu korbannya saat bertanya: “Mengapa saat perayaan Nyepi di Bali semua warung, toko bahkan bandara bisa tutup tetapi saat ibadah puasa Ramadan warung tidak bisa ditutup?”

Saya menduga-duga, bisa jadi sebagian besar umat muslim merasakan hal serupa seperti yang saya rasakan. Umat muslim inilah yang saya sebut sebagai ‘Silent Majority‘. Mereka mayoritas tetapi kehidupan beragamanya ditekan dan diatur oleh sistem liberalisasi. Mayoritas tetapi memilih diam dalam pengertian mengakomodasi perubahan zaman. Liberalisasi dianggap perubahan zaman.

Menurut saya, seharusnya sikap ‘diam’ atau ‘akomodatif’ itu dibalas dengan penghormatan yang layak, tidak berlebihan seperti dalam kasus ‘Warteg Tangerang’ atau kasus ‘Siyono Klaten’, termasuk tekanan majikan pada pekerja untuk menggunakan topi Sinterklas.

Rangkaian pelemahan mayoritas ini mungkin tidak disadari sebagai sebuah pelemahan bahkan penindasan terhadap mayoritas. Hingga semesta mencari jalan keluarnya sendiri melalui pintu Al-Maidah 51.

Menyusul kemudian aksi 411 dan 212. Saya melihat aksi ini sebagai gerakan hati nurani muslim sebagai mayoritas yang selama ini merasa dilemahkan. Kalau sudah hati yang berbicara, apapun bisa terjadi. Aksi 212 itu contoh nyata gerakan hati nurani…

Sebagai sebuah gerakan sosial, dalam konteks inilah saya melihat larangan muslim menggunakan topi Sinterklas sebagai keinginan kelompok mayoritas untuk mengembalikan keteraturan seperti semula dan relasi mayoritas dan minoritas normal seperti sedia kala.

Khusus dalam kasus topi Sinterklas, saya berpandangan agak beda. Karena ini tidak terkait dengan keyakinan dan jika tidak ada paksaan atau merasa terpaksa, topi Sinterklas dapat digunakan. Saya harus menyampaikan maaf jika ada yang berbeda pandangan dengan saya. Hingga saya menemukan argumen atau hujjah yang lebih kuat.

Dari relasi peristiwa aksi 411, aksi 212 dan topi Sinterklas ini yang terpenting sebenarnya kita manusia Indonesia menyadari bahwa;

“Melindungi minoritas itu kewajiban, melemahkan mayoritas itu kebodohan”.

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button