KOMUNIKASI RUHANI

Tips Berkomunikasi Di Grup WhatsApp

Pola komunikasi di ruang virtual seperti Group WhatsApp (selanjutnya disebut GWA) ini memang agak unik. Kadang rame, kadang garing, kadang menyakitkan, kadang menghibur dan kadang-kadang lainnya.

Saya coba berbagi tips dan analisis berdasarkan pengalaman pengamatan dan pembacaan saya. Semoga membantu jika ada masalah serupa di GWA pembaca.

Tentang Waktu :

Kadang, pesan yang masuk di GWA datang bertubi-tubi tidak pernah perduli dengan kondisi yang kita alami. Tidak ada waktu jeda untuk sekedar berfikir penting atau tidak untuk terlibat memberi komen. Salah perhitungan justru menyebabkan sering salah komen, atau salah kamar dalam mengirim komen.

Karena pertimbangan itu, saya selalu posting informasi pagi Subuh. Subuh merupakan waktu luang lebih cukup dengan fikiran lebih segar. Atau siang saat istirahat kerja dan sore hari pulang kerja.

Tentang Waktu bisa mengikuti pola 7S  : saring, status, sebar, subuh, siang, sore, saja.

Asumsinya kita semua bekerja (setidaknya menghormati orang yang bekerja) maka Subuh, Siang (istirahat) dan Sore waktu yang tepat untuk saling menyapa dan berbagi hal penting bagi GWA. Kecuali ada informasi darurat atau penting.

Tentang Respon :

Dari awal harus disadari bahwa tiap orang berbeda dalam merespon status orang lain di GWA. Sikap yang paling banyak, mereka memilih diam. Tidak pernah menyampaikan atau berbagi informasi dan memberi komen atas informasi orang lain.

Hal ini bisa jadi karena dua faktor :

  • Pertama, BAPER (Bawa Perasaan)
  • Kedua, SIDER (Silent Reader)

Orang yang Baper terlalu menghayati perbincangan di GWA. Apa saja pembicaraan orang di GWA, dimasukin ke hati.

Sementara Sider, orang yang sebenarnya suka berada di GWA. Dia berat untuk keluar GWA karena berbagai pertimbangan. Tapi tetap tidak bersedia memberi komen atau berbagi informasi.

Kita tidak bisa memaksa orang seperti ini untuk terlibat, karena tiap orang berbeda pola dan karakternya. Kelihaian admin atau orang dekat dibutuhkan untuk menggodanya aktif di GWA. Walau Sider, biasanya tipe orang seperti ini bisa muncul jika dipancing emosi solidaritasnya. Misalnya kemalangan, Ulang Tahun atau solidaritas lainnya.

Tentang Respon, bisa gunakan pola 3S : Saring, sharing, selesai.

Pilihlah informasi penting untuk GWA, sharing (bagi) dan selesai. Jangan berharap mendapat respon, sanjungan, pujian atau kritik. Kembalikan ke titik netral. Berharap mendapat respon dapat membentuk fikiran penuh kecurigaan pada sesama anggota GWA.

Tentang Materi :

Materi yang disebar di GWA memang kadang belum tentu sesuai dengan yang kita butuhkan. Apalagi kalau sumbernya tidak jelas atau sekedar Copy Paste. Materi informasi yang ‘baik’ belum tentu ‘benar’. Setiap kita yang ingin berbagai informasi memang perlu bijak dan lebih hati-hati.

Tentang Materi, bisa mengikuti pola :

  1. Saring sebelum Sharing
  2. Saring yang Penting, bukan yang penting Sharing
  3. Seleksi sebelum Berbagi Informasi.

Tentang Karakter :

Jika kita tidak mengenal dengan baik atau tidak pernah bertemu dengan orang dalam GWA, sebaiknya gunakan komunikasi formal/semi formal yang elegan, santai, tapi penuh hormat.

Jika sudah kenal baik dengan orang dalam GWA, bahkan sangat baik, itu sudah personal sifatnya. Kita tidak bisa/boleh meniru mereka yang memiliki hubungan personal. Sebab proses ke arah komunikasi yang bersifat personal itu juga mereka lalui dengan panjang.

Di GWA, karakter orang dilihat dari :

  • Pilihan Kata
  • Gaya Tulisan
  • Struktur Kalimat
  • Tone (Tendensi Suara, Kecenderungan).

Dari unit analisis itu kita bisa menilai karakternya di GWA antara lain:

  1. Dominasi : Paling banyak terlibat semua tema perbincangan, paling banyak atau paling sering memposting informasi. Dalam berdiskusi, biasanya ingin menguasai.
  2. Eksistensi : Merasa paling banyak tau tentang banyak hal. Karena merasa paling banyak tau, dia lupa ada tempe dan kerupuk di GWA.
  3. Apresiasi : Memberi apresiasi apapun yang diposting oleh anggota GWA, minimal memberi jempol.
  4. Provokasi : Menyampaikan informasi di GWA dengan cara menghasut dan memanas-manasi.

Di luar 4 kelompok itu, biasanya mereka masuk kelompok yang Baper dan Sider. Kelompok ini sulit dianalisis karena tidak pernah memposting status di GWA.

Menghadapi 4 kelompok itu juga berbeda polanya.

Menghadapi orang dominan, sebaiknya biarkan dia bahagia dengan dominasinya. Kita cukup diam, ini cuma dunia virtual bukan dunia real. Siapa yang diam, dia selamat.

Menghadapi orang eksistensialis, kalau mampu beri dia pujian biar bahagia, atau pilihlah diam. Orang tipe seperti ini biasanya tidak mau mengerti tapi suka dipuji. Merasa paling tau, lupa ada tempe dan kerupuk di sekitarnya.

Menghadapi orang yang suka memberi apresiasi, balaslah dengan apresiasi setimpal. Sedikit atau banyak, suatu apresiasi akan memancarkan energi positif.

Menghadapi orang yang suka provokasi, jika punya kekuatan, tegurlah dengan saluran japri (jaringan pribadi). Jangan permalukan dengan menegurnya di GWA. Provokasi bagaimanapun akan membawa serta energi negatif karena penuh amarah dan ketergesa-gesaan. Tapi, sesekali biar GWA lebih hidup, perlu juga ada provokasi.

Di atas segalanya, silaturahmi dan ukhuwah harus menjadi nafas anggota GWA. Mencari musuh itu mudah, pergi ke pasar, ludahi muka orang. Jadilah dia musuh kita. Tapi mencari teman itu susah, apalagi teman sejati yang mau mengerti kita dalam suka dan duka.

Selain silaturahmi dan ukhuwah, sopan santun perlu menjadi pegangan semua anggota GWA. Sapa sesuai stratanya, kalau lebih tua panggil dengan sebutan lebih tua. Hindari membully, mengumpat, berkata kasar dan kotor, mencaci, memaki, labeling, streotipe, stigma atau julukan sebutan yang tidak baik.

Dalam situasi sulit, siapa yang memilih diam dia akan selamat. Demikian semoga manfaat…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..
Back to top button