AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Tetaplah Udik Saat Mudik

Pemudik yang sudah sukses atau belum sukses saat pulang kampung tetaplah menjadi udik, jangan suka pamer. Sementara, warga di kampung halaman terimalah pemudik dengan keramahan, kehangatan dan keindahan kampung halaman. Jangan bebani pemudik dengan berbagai pungutan atau harapan yang memberatkan. Iswandi Syahputra

Udik sebagai kata benda dapat dipahami sebagai kampung halaman. Dengan demikian, mudik dapat dipahami sebagai kembali ke kampung halaman. Artinya, saat di kampung halaman Anda benar-benar berada dalam lingkungan, adat istiadat, atau tata kerama khas orang kampung yang bersahaja, ramah, saling tolong menolong, penuh kehangatan, kekeluargaan dan persahabatan. Ini lebih pada suasana kebatinan daripada suasana fisik material. Sebab, kehadiran media baru dengan jangkauan jaringan yang semakin luas dan kemampuan memiliki gadget bagi setiap warga saat ini, mungkin saja dapat menggeser suasananya tapi tidak dapat mengubah perasaan. Perasaan batiniah suasana kampung yang bersahaja.

Kampung halaman, pada saat musim mudik menjadi seperti ruang perjumpaan dua hal antara ingatan keindahan masa lalu di kampung halaman dan kondisi setiap orang saat ini yang masing-masing sudah berubah. Walau masa lalu menyimpan keindahan kampung halaman, namun tidak selamanya mudik mampu membuka dengan lembut keindahan masa lalu tersebut. Tidak jarang saat mudik menjadi waktu yang tidak mengenakan karena beberapa hal yang sebenarnya dapat dihindarkan.

Jangan pamer saat mudik

Mungkin banyak teman masa kecil kita di kampung halaman yang nasibnya secara ekonomi kurang baik. Saya  juga punya beberapa sahabat masa kecil yang secara ekonomi kurang baik. Bagi yang mengenal jiwa saya dan cukup dekat saat masa kecil, mereka tidak sungkan saat saya ajak bertemu saat ini. Tapi bagi yang tidak paham saya dengan baik apalagi kurang dekat pada masa kecil, umumnya mereka sungkan untuk bertemu karena menganggap saya sudah sukses. Ini yang keliru… Tidak perlu begitu, sebab ajakan bertemu dasarnya adalah keindahan masa lalu bukan keberhasilan saat ini.

Namun demikian ada pula pemudik yang saat mudik niatnya ingin pamer keberhasilan. Niat ini tidak buruk, mungkin ada unsur pamer tapi ada pula terselip motif ingin mendorong warga kampung merantau untuk memperbaiki nasib hidup. Apapun alasannya, pamer saat mudik bukanlah hal yang bijak. Sebab, mudik ke kampung halaman pada hakikatnya adalah proses menuju jalan (tariqat) perjumpaan dengan kenangan indah masa lalu sebagai sebuah makrifat. Masa lalu yang udik, maka tetaplah menjadi udik saat mudik. Jangan pamer harta benda, pangkat, jabatan, gelar, status, pengalaman dan hal lain yang tidak dibutuhkan di kampung halaman.

Ini agak sulit, karena keinginan ini tidak berdiri sendiri tapi kadang dipengaruhi oleh faktor sikap warga di kampung halaman. Sedapat mungkin jangan pamer atau merasa sukses. Walau niatnya demikian, kadang kendala terberat justru datang dari orang-orang di kampung halaman yang kadang melihat kita sukses. Mereka juga ingin mendengar kisah sukses kita. Menghadapi ini, sebaiknya sampaikan nilai luhur pada masa kecil di kampung halaman itulah yang membuat kita sukses. Sikap ini merupakan jembatan agar kesuksesan kita tidak terlepas dari pengalaman masa kecil di kampung halaman. Artinya, suasana kampung halaman berkontribusi pada karakter diri kita sehingga menjadi sukses.

Jangan berharap pada pemudik

Karena menganggap pemudik itu adalah mereka yang sukses merantau keluar kampung halaman, banyak di antara warga yang menetap di kampung halaman berharap pada pemudik. Berharap mendapat bantuan pembangunan kampung, berharap mendapat saweran, berhadap membantu warga, berharap mendapat bingkisan hingga hal yang terkecil berharap atau meminta sekedar ditraktir, misalnya.

Ini juga merupakan sebuah sikap kurang bijak. Sebab, tidak semua pemudik itu berhasil selama di perantauan. Beberapa perantau banyak yang masih berjuang menjadi sukses atau sekedar merantau menjadi buruh misalnya, agar tidak terlihat menganggur di kampung halaman. Mereka mudik bukan karena merasa sukses, tapi hanya karena rindu tak tertahankan pada kampung halaman, kangen tak terbendung pada orang tua, keluaraga dan teman masa kecil.

Hidup mereka sudah menderita di perantauan. Mudik menjadi ritual menyegarkan kejiwaan dan mengumpulkan energi baru agar tetap semangat dalam jalur perjuangan meraih sukses di perantauan.

Jadi, pemudik yang sudah sukses atau belum sukses saat pulang kampung tetaplah menjadi udik, jangan suka pamer. Sementara, warga di kampung halaman terimalah pemudik dengan keramahan, kehangatan dan keindahan kampung halaman. Jangan bebani pemudik dengan berbagai pungutan atau harapan yang memberatkan.

Itu ajah…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button