AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Respect Untuk Prof. Budi Santosa Purwokartiko

Saya tidak tau apakah Prof. Budi Santosa Purwokartiko ini suka bola, khususnya liga di Eropa, atau tidak? Kalau suka, apapun klub pujaannya, harusnya dia paham mengapa di lengan kiri jersey setiap pemain ada kata RESPECT. Kalau tidak suka sepak bola, tidak perlu sampai menjadi fans sepak bola EURO, Liga Champions dan kompetisi di bawah UEFA untuk memahami arti kata RESPECT. Kalau tidak paham juga makna RESPECT dalam konteks budaya multicultural, multireligious termasuk multiethnic dalam konteks relasi sosial di Eropa, khususnya relasi antar fans sepak bola, mungkin tulisan pendek ini bisa memahami kita semua agar respect pada berbagai perbedaan.

Sepak bola tidak selamanya menghibur atau menguntungkan. Sepakbola dalam budaya beragam dapat juga menjadi representasi identitas etnik dan religius. Rivalitas antara antara Celtic dan Rangers dalam liga Skotlandia misalnya, sarat dengan sentiman agama di antara pendukungnya.

Sehingga, pertandingan sepakbola kerap pula bersinggungan dengan etnik dan agama. Pada saat yang bersamaan, banyak pemain bintang sepak bola di Eropa berasal dari Afrika yang beragama Islam atau imigran muslim keturunan Afrika. Panjang ini penjelasannya, saya harus keliling Eropa untuk memahami ini dan hasilnya menjadi buku “PEMUJA SEPAK BOLA”. Bapak bisa beli di Gramedia, atau saya kirim dari Yogyakarta, lengkap dengan tanda tangan.

Intinya, karena pemain sepak bola muslim sering mengalami kekerasan verbal dan fisik, UEFA kemudian mengambil sikap untuk mekampanyekan “RESPECT”. Legenda sepak bola Prancis, Michel Platini yang saat itu menjadi Presiden UEFA di Piala Eropa 2008 di Austria dan Swiss mengatakan: “Sebagai badan dari sepak bola Eropa, UEFA memiliki tanggung jawab untuk melindungi permainan dan pendukungnya. Merupakan komitmen berkelanjutan UEFA untuk memerangi segala bentuk diskriminasi, meningkatkan akses untuk para penggemar penyandang cacat, mempromosikan kesehatan melalui aktivitas fisik dan mendorong dialog antarbudaya antara fans dan kota-kota tuan rumah.

Bola bergulir, kampanye RESPECT kemudian mengalir menjadi empat kelompok:

  1. Respect Diversity (Menghormati Keanekaragaman)
  2. Respect Fan Culture (Menghormati Budaya pendukung)
  3. Respect Inclusion (Menghormati penyandang cacat/Inklusi)
  4. Respect Your Health (Menghargai Kesehatan Anda)

Kultur sepak bola Indonesia mungkin tidak sebaik di Eropa. Tapi kita berbeda etnis dan agama itu adalah nyata dan tegas dalam slogan: Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Artinya, sudah sejak lama kita sebagai bangsa punya posisi yang sangat kuat untuk RESPECT pada etnis yang berbeda, RESPECT pada agama yang berbeda, dan RESPECT pada semua yang berbeda. Karena itu jangan terlalu fokus pada PERBEDAAN, fokuslah pada PERSATUAN. Caranya?

Sebagai anak bangsa, apalagi kita yang terdidik, yang hidup dalam perbedaan, janganlah kita bersikap stigmatis, sinis bahkan rasis terhadap kelompok yang berbeda. Saya muslim, saya sangat RESPECT jika saudara saya umat Kristiani berujar Haleluyah, Puji Tuhan atau saudara saya umat Hindu di Bali berujar Astungkara dan ungkapan keagamaan lainnya dalam relasinya sehari-hari dengan saya. Sejak lama saya terbiasa menghargai dan menghormati orang yang berbeda keyakinan, berbeda etnis, berbeda pilihan dan perbedaan lainnya. Perbedaan itu takdir kemanusiaan, takdir ke-Indonesia-an. Dan keyakinan religiusitas lisan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepintaran atau kejeniusan. Jadi, bersikaplah yang wajar, namun penuh hormat saat menghadapi perbedaan. Itu ajah…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button