AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Merawat Akal Sehat

Mengapa akal sehat penting? Karena akhir-akhir ini, akal sehat kita sering diuji oleh klaim kebenaran yang dikendalikan oleh kekuasaan dan kekuatan penopang lainnya.

Banyak hal menjadi jungkir balik dan sulit dibedakan antara benar-salah dan baik-buruk karena orang berakal sehat kurang menggunakan akal sehatnya. Fanatisme yang membabi buta juga dapat memicu hilangnya akal sehat. Akibatnya bisa jatuh pada sikap curiga dan saling membenci yang teraktualisasi menjadi suka mencaci, memaki, menghina, mencerca. Lebih halus sedikit bersikap sinis.

Sebaliknya akal sehat akan memandu orang mampu bersikap kritis, sehalus apapun itu sikap kritis jauh berbeda dengan sikap sinis. Sikap kritis didasari oleh berbagai relasi yang timpang, atau argumen yang rancu terutama bila ketimpangan dan kerancuan tersebut menyangkut urusan publik dan hajat hidup orang banyak.

Hilangnya akal sehat dapat semakin menjadi endemi berfikir jika kaum terdidik memilih diam. Baik diam karena tidak tau, diam karena tau tapi tidak mau tau, diam karena tau tapi takut. Takut berbeda dari komunitasnya sehingga takut mendapat sanksi teraleniasi, atau takut pada kekuasaan dan sebab ketakutan lainnya.

Jika ini terus berlangsung kita dapat mundur jauh ratusan tahun dan berabad yang lalu. Suatu masa dimana defenisi kebenaran dikendalikan oleh kekuasaan. Masa dimana kebenaran harus berakhir di tiang gantungan. Masa dimana ilmu pengetahuan tunduk pada pihak yang memiliki otoritas. Jejak masa itu bisa kita temui pada ilmuwan Galileo Galilei abad ke 15-16 di Italia.

Galileo Galilei

Karena kebenaran diproduksi dan dikontrol kekuasaan, akan muncul spiral of silence. Warga negara menjadi pendiam tidak lagi berani bicara kritis karena kontrol kebenaran dikendalikan oleh kukuasaan.

Tidak cuma itu, jika sikap diam itu perlahan bergeser menjadi keberpihakan maka diam dapat beralih menjadi pembelaan. Pembelaan yang didasari oleh fanatisme ini yang menjadi agen penyebar klaim kebenaran di semua sektor kehidupan. Sehingga tidak jarang menabrak batas relasi sosial dalam bentuk mencaci, memaki, menghina, mencerca, menuding dan curiga dalam tensi yang sangat tinggi. Apa jadinya jika tudingan atas dasar kecurigaan itu menjadi satu dibalut dalam suatu pidato dan orasi terbuka oleh pemimpin politik?

Sebagai bangsa, ini merupakan tanda bahwa kita kehilangan sesuatu yang mahal berupa prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Sebab justru Bhinneka Tunggal Ika ‘dipaksa’ tafsirnya menjadi tunggal. Kita berbeda suku, daerah, bahasa dan agama tapi tetap satu.

Jika pemeluk satu agama merasa agamanya dihina, bukankah itu mengancam Bhinneka Tunggal Ika? Jika kemudian mereka menuntut agar penghinaan tersebut diproses hukum, sejatinya mereka sedang menegakkan identitas ke-bhinneka tunggal ika-an Indonesia.

Kembali ke akal sehat sebenarnya dapat menjadi rute kita melakukan normalisasi situasi. Menurut saya, Rocky Gerung merupakan salah satu dari kaum terdidik yang memilih rute berpihak pada akal sehatnya. Mungkin juga akal sehat yang dipegangnya dapat didebat. Tidak masalah, perdebatan itu akan menyehatkan kehidupan kita. Sebab akal sehat hanya akan tunduk pada kebenaran bukan kekuasaan.

Kabarindonews : Ini 5 Pernyataan Rocky Gerung Yang Bikin Karni Ilyas Kaget

Saya kutip beberapa pandangan Rocky Gerung bagaimana dia menggunakan akal sehatnya dalam menyikapi situasi yang menjadi urusan atau perbincangan publik:

“Sore tadi saya baca, Pak Jokowi bilang, ‘Jangan membaca Jokowi Undercover karena buku itu tidak ilmiah’. Saya anggap itu hoax,” kata Rocky disambut tawa sebagian peserta ILC.

“Karena yang ngomong itu adalah presiden, memberi penilaian pada buku tidak ilmiah. Tentu kita bisa bikin secaman simulasi dari mana Pak Jokowi tahu. O, pasti kalau ada wartawan tanya dia akan bilang, ‘kata Pak Tito. Kapolri’ Lho, Pak Tito rektor UI atau rektor ITB itu?,” kembali peserta ILC tertawa.

“Jadi Anda lihat bahwa, bahkan presiden menyebar hoax itu. Dari sudut pandang definisi lho,” tegas Rocky disambut tepuk tangan.

Menurutnya, yang berhak menentukan suatu buku ilmiah atau tidak adalah kampus. Sementara buku tersebut justru dilarang dibahas di kampus untuk mengetahui ilmiah atau tidaknya.

Bagi saya sendiri, akal sehat selain penting untuk menjaga kewarasan juga karena ajaran agama saya Islam, menempatkan akal dan proses penggunaannya dengan sistem berfikir kritis yang sangat strategis. Karena itu, pada banyak hal terutama dalam urusan publik menggunakan akal sehat merupakan jalur menuju demokrasi yang bermartabat.

Maka…

afala ta’qiluun =
Apakah kalian tidak menggunakan akal?

afala tatafakkaruun =
Apakah kalian tidak berfikir?

afala yatadabbarun =
Apakah kalian tidak menelaah?

la’allakum ta’qiluun =
Agar kalian memahaminya

la’allakum tadzakkaruun =
Agar kalian mengambil pelajaran⁠⁠⁠⁠.

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button