AKU ADA, MAKA AKU JALAN-JALAN

Keramahan Madinah Yang Mengesankan

“Drink, tea…” tawar seorang anak perempuan usia 5 tahunan sambil memberi cangkir pada saya. Sementara, saudara lelakinya usia 7 tahunan membawa ceret (teko) yang menuangkan teh hangat ke cangkir yang saya pegang.

Usai menuangkan teh hangat dari ceret, “Thank you”, ujarnya. Menyaksikan keramahan anak kecil ini, saya langsung teringat anak di rumah. Ini mungkin hukum traveling sedang bekerja:

“Lihat anak kecil, ingat anak di rumah. Lihat wanita cantik, lupa isteri di rumah…” Hihihi…

Anak-anak ini salah satu kesaksian saya dari keramahan Madinah yang sungguh mempesona. Keramahan yang saya rasakan, tepatnya di pelataran masjid Nabawi.

Sebenarnya kesan takjub sudah terasa saat petama memasuki kota Madinah. Untuk kawasan Timur Tengah, memang baru Mekkah dan Madinah yang bisa saya komentari karena baru dua kota ini yang saya kunjungi, sementara Dubai dan Doha, hanya singgah untuk transit.

Ketakjuban itu sebenarnya bukan tanpa dasar. Saya menggunakan 2 perbandingan saja. Pertama, dengan Mekkah sebagai sesama kota suci di Arab Saudi. Kedua, beberapa kota besar di Eropa yang tergolong maju dan modern.

Tata kota dan bangunan Madinah menurut saya cukup bagus merepresentasikan kota dengan corak modern dan humanis. Banyak yang dapat diajukan, tapi secara singkat saya sampaikan beberapa hal saja;

Pertama, memberi akses bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas melalui pedestarian yang luas dan berbagai fasilitas publik yang layak.

Kedua, luas, tinggi, bentuk dan warna gedung yang nyaris standar sama dan seragam. Ini mirip seperti di Paris, Roma, London, Wina, Washington, dan kota maju lainnya.

Prinispnya sederhana, sisi luar gedung masuk wilayah publik diatur oleh negara. Sisi dalam gedung urusan pemilik, diatur sendiri dengan leluasa. Poinnya, luar gedung seragam, dalam gedung beragam.

Yang menarik, tidak ada satu gedungpun yang mengelilingi mesjid suci Nabawi yang ketinggiannya melebihi menara mesjid, beda dengan Masjidil Haram di Mekkah.

Senyum Ramah Madinah

Tiba di Madinah, masuk hotel kesan ramah warga mulai terasa dari senyum para penjaja toko di sekitar Masjid Nabawi. Tidak tampak asykar masjid yang patroli seperti di Masjidil Haram, ini cukup melegakan.

Memasuki bagian dalam mesjid, keramahan simbolik sudah mulai terasa melalui tanda arah, pemisahan jamaah pria dan wanita, rak sendal yang tersedia rapi bahkan sampai di dalam mesjid, ruang yang adem dengan karpet yang tebal dan empuk sangat menggoda untuk khusyuk beribadah. Saya betah berlama di dalamnya dari pada di kamar hotel.

Kembali masuk masjid, saya lupa kalau ini hari Kamis (21 Juli 2022). Di atas karpet bagian dalam masjid banyak disiapkan berbagai sajian makanan. Rupanya ini persiapan untuk berbuka puasa sunah. Seorang pemuda menyapa saya dengan sangat ramah. Senyumnya itu, saya suka. Benar-benar terasa senyum tulus dari hati.

Dan senyum seperti ini bukan yang pertama, saat masuk ke semacam ruang pameran dan Raudah, petugas juga melepas senyum serupa. Senyum yang manis dan terkesan hangat penuh persaudaraan. Sungguh mengesankan…

Tidak sampai disitu…

Memasuki pertokoan, saat saya ingin membeli Al-Qur’an untuk waqaf, saya mendapat 2 kecupan di pipi dari 2 pria dewasa yang berbeda.

Umumnya para pelayan toko adalah pria yang bisa berbahasa Indonesia.

“Habibi, sini, ini murah…” Saya disapa kemudian dirangkul ramah oleh seorang pria dan langsung bibirnya mendarat mengecup pipi saya.

Risih?

Tidak, karena saya tau ini salah satu budaya yang sempat saya lihat dalam beberapa komunitas Arab di Indonesia atau teman lulusan Arab Saudi. Kecupan di pipi ini mungkin semacam budaya cium tangan di Indonesia sebagai ekspresi rasa hormat.

Saya jutsru risih jika yang mengecup pipi saya wanita muda asal Turki atau Iran yang juga berbelanja di toko yang sama dengan saya.

Terima kasih Madinah, saya jatuh cinta karena warganya yang ramah. Sebagai penghormatan pada keramahan Madinah, di Raudah yang mustajab,.saya panjatkan doa agar anak saya dikabulkan melanjutkan studi di Madinah. Selain mendapat ilmu agama, siapa tau juga mendapat mantu wanita dari Madinah atau tidak Turkipun jadilah

Movenvick Hotel, Madinah
22 Juli 2022.

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Tinggalkan Balasan

Back to top button