KOMUNIKASI RUHANI

Haji Sebuah Perjalanan Menjadi Hamba Pilihan

Keluar biaya ratusan juta, fisik remuk, kerjaan dan keluarga ditinggalkan untuk berangkat Haji, demi apa coba? Percuma saja kalau berangkat Haji hanya demi selfie photo sana sini.

Sejak awal saya menahan diri untuk tidak posting atau komen apapun terkait ibadah Haji atau awal Idul Adha di semua saluran media sosial, semata hanya ingin agar ibadah Haji yang saya jalani bersama isteri di tanah suci berlangsung khusyuk dan khidmat.

Sejak awal manasik di dalam negeri, hingga selesai semua proses ibadah Haji di tanah suci, saya dan isteri sudah berserah diri total dan penuh tawakkal. Kami sadar Haji bukan ibadah biasa. Sejak awal pada isteri saya tekankan, Haji adalah perjalanan 2 dimensi dalam 1 waktu dan 1 tempat yang sama. Dimensi spiritual dan fisikal, dimensi hakikat dan syariat, dimensi batiniah dan lahiriyah. Keduanya berjalan beriringan dalam semua rangkaian ibadah Haji. Keduanya harus dijalani dengan penuh persiapan, kesabaran, keteguhan, keyakinan dan keimanan.

Secara spiritual, hakikat dan batiniah, Haji bagi saya mengandung daya religius yang luar biasa kuatnya. Kalau bukan karena daya tarik religius yang luar biasa, tidak mungkin jamaah mengeluarkan puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk berletih saja.

Secara fisikal, syariah, dan lahiriah, saya hanya cukup beri gambaran begini: “Daya tahan fisik, jamaah Haji yang beribadah secara syariat dipandu oleh pembimbing Haji, sudah cukup untuk diangkat jadi tentara”. Saya gambarkan ini karena saya pernah merasakan test fisik masuk tentara. Haji membutuhkan daya tahan fisik yang luar biasa prima. Soal syariat, tinggal ikuti saja bimbingan dari Ustad Pembimbing Haji.

Sementara secara hakikat, ini yang terpenting agar tidak mengeluh dan pamer saat berhaji. Secara hakikat, Siapa yang memanggil Haji? Siapa yang dipanggil Haji? Mengapa Haji mengambil situs religius di Ka’bah (Baitullah) dan sekitarnya (Bukit Shofa, Marwah, Arafah, Mina Muzdalifah)? Ini tidak bisa dijelaskan dengan mudah dan terbuka.

Secara syariat, saya ikuti saja arahan pembimbing Haji yang memang sudah berpengalaman mengurusi jamaah Haji. Doa yang diucapkan pembimbing dan didengar jamaah melalui headset, saya ikuti secara syariat, namun secara hakikat, hati saya tetap terpaut dengan Baitullah yang memanggil saya sebagai Mukmin (bukan Iswandi) untuk berhaji.

Banyak yang tertarik, sedikit yang terpanggil dan hanya beberapa yang terpilih

Kalau sekedar tertarik, sejak kecil dikenalkan ibadah Haji di bangku Madrasah, saya sudah tetarik untuk naik Haji. Tapi belum punya nyali. Barulah pada tahun 2014 saya daftar Haji Reguler, dapat antrian hingga tahun 2028. Tahun 2015 saya coba jajaki Haji Plus, dapat antrian tahun 2020. Saat itu duit belum ada tapi, Bismillah… saya dan isteri daftar Haji Plus. Yang terpikir saat itu, naik Haji dengan isteri sebelum usia 50 tahun. Urusan biaya, kita manusia hanya berusaha, Allah yang memberinya. Walau jika mau usaha keras, bisik sana bisik sini, mungkin dapat saja saya naik Haji Abidin (atas biaya dinas), tapi tidak terbetik dan tergoda sama sekali karena rasa nikmatnya pasti beda jika berangkat dengan biaya sendiri. Itu ajah…

Karena pandemi, jadwal Haji 2020 dan 2021 ditunda, barulah dibuka lagi 2022. Karena pandemi juga dan hal lainnya, biaya Haji tahun 2022 naik 3-4 kali lipat. Saya memilih Travel Haji dan Umrah Nur Ramadhan, yang direkomendasi almarhum Bapak mertua, hasilnya memang sesuai harapan, saya puas karena ibadah Haji dijalankan sesuai dengan Sunnah Nabi dan perencanaan yang matang dalam situasi lapangan yang sering berubah seperti jalan yang buka-tutup, lalu lintas dan mobilitas manusia, kemacetan, cuaca panas, dll.

Mendaftar Haji tahun 2014, itulah batas garis dari tertarik ke terpanggil berangkat Haji. Sebab, niat sudah dibuktikan dengan tindakan, tapi ini juga belum pasti berangkat karena masih banyak syarat dan prosedur yang harus dilewati.

Haji Furoda vs Haji Backpacker

Pada fase ini, banyak calon jamaah Haji yang ingin mengambil jalur cepat melalui Haji Furoda. Singkatnya, haji furoda atau disebut juga haji mujamalah adalah haji yang visanya diperoleh dari undangan pemerintah Arab Saudi. Bedanya cuma di VISA (ijin masuk) yang didapat dengan cepat. Kalau slot masih ada, hari ini daftar, besok bisa berangkat Haji. Tidak perlu menunggu sampai puluhan tahun. Ini kebijakan progresif dari Pemerintah Saudi untuk jenis jamaah yang mampu dan tidak sabar menunggu. Karena itu harga visanya saja bisa 200 sd 300 juta.

Visa haji Furoda dapat diurus sendiri secara mandiri tanpa menggunakan travel Haji. Sementara pelayanan lain selama Haji silahkan atur sendiri, kalau mau pedih dan perih silahkan Haji mandiri ala backpacker.

Saran saya, jika ingin haji dengan menggunakan Visa Furoda, sebaikanya jangan diurus sendiri secara mandiri. Gunakan travel Haji yang resmi dan sudah berpengalaman. Haji ini bukan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) seperti saat Pramuka ketika SMP atau SMA. Haji juga beda dengan ibadah apapun dari ritual agama apapun di dunia, tidak ada bandinganya.

Nyatanya, Haji ini tentang mobilisasi jutaan manusia dari segala penjuru dunia yang terkonsentrasi dan termobilisasi dari satu situs religius bergerak ke situs religius lainnya. Mobilisasi jutaan manusia dari seluruh dunia yang menakjubkan. Bukan saja soal jumlahnya, tapi pergerakannya, jaraknya, ketertibannya, keamanan dan kenyamanannya. Salut buat pemerintah Saudi… Hormat saya juga untuk jamaah Haji dari semua penjuru dunia yang berjalan kaki lumayan jauh dalam beberapa fase ritual seperti melempar jumrah dan wuquf. Bagi saya ini pemandangan dan pengalaman dahsyat luar biasa. Jadi, jangan coba-coba Haji backpacker, ini ibadah bukan wisata, itu ajah…

Saran lain, walau biaya Haji Furoda sangat mahal, dan itu misalnya bukan masalah bagi sebagian orang, sebaiknya persiapkan paling tidak setahun sebelumnya. Banyak calon jamaah yang sudah bawa koper dan siap berangkat Haji tapi Visa Furoda belum keluar juga, padahal orang sekampung sudah tau semua. Bahkan 46 jamaah Haji Furoda asal Indonesia harus dideportasi setiba di Arab Saudi karena menggunakan visa Furoda Singapura atau Malaysia.

Banyak juga yang salah paham tentang konsep Haji Furoda. Harga Visa Furoda sangat mahal, bukan berarti semua full servis dari Kerajaan Saudi. Terus berharap disambut di bandara dengan kalung kurma disertai rebana, dijamu makan di istana dan servis lainnya. Teman setenda saya berujar, “Karena Haji Furoda kemudian mikirnya kalau mau tawaf, Ka’bah nya yang dipindah”. Tidak seekstrim itulah, tapi sepemahaman saya, Haji Furoda itu hanya soal VISA khusus Haji dengan harga mahal tapi dapat kompensasi tidak perlu antri untuk naik Haji. Itu ajah, selebihnya transportasi, akomodasi dan konsumsi dihandle sendiri atau gunakan travel agensi Haji.

Sekali lagi, plisss… ini ibadah melibatkan jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia. Jangan main-main, coba-coba atau tergiur dengan promo Haji Backpacker. Saya dan isteri pelaku backpacker ke beberapa negara. Kami cukup kenyang belusukan coba-coba semua jenis penginapan dan transportasi selama backpackeran. Tapi benar, Haji ini beda, beda jauh dengan wisata ala backpackeran. Ini ibadah… Kalau umrah, okelah saya pikir masih bisa backpacker karena mobilitasnya tidak besar dan jumlah manusianya tidak sebanyak Haji.

Ikut Haji melalui pemerintah atau travel yang resmi dan berpengalaman saja ya. Saya rekomendasikan NUR RAMADHAN.

Jamaah yang sudah berada di tanah suci Mekkah untuk ikuti tahapan ibadah Haji inilah orang-orang yang sudah terpanggil untuk datang memenuhi Undangan Allah SWT.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ،
لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ

Jamaah Haji ini benar-benar terpanggil untuk datang ke Mekkah, memenuhi undangan Allah SWT. Walau setiba di Mekkah, saat ibadah tawaf, sai, wukuf, mabit, lempar jumrah mereka lupa sedang dipanggil Allah SWT malah memanggil sanak saudaranya di tanah air. Banyak jamaah yang saat tawaf, sai, wuquf, mabit, lempar jumrah justru melakukan video call atau selfie. Mereka lupa sedang berada dalam status ‘dipanggil Allah SWT’.

Menjadi Hamba Pilihan

Inilah yang saya sebut, banyak yang terpanggil untuk Haji, tapi mungkin sedikit yang terpilih menjadi Haji mabrur (Haji yang diterima). Jika manasik adalah input, ibadah haji adalah output maka haji mabrur ini semacam outcome.

Semua jamaah Haji menginginkan Haji mabrur, tapi semua seperti mengabaikannya. Tidak sedikit jamaah yang menjalankan Haji seperti orang bersiul-siul saja, senang gembira seperti wisata. Saat wukuf di Arafah, waktu dan tempat paling mustajab untuk memanjatkan semua doa-doa, malah sibuk dengan video call dengan keluarga, nonton Youtube, tidur atau merokok sambil ngobrol ngalor ngidul. Kering dengan kekhusyukan, penghayatan dan kekhidmatan.

Saya sendiri tidak tau bagaimana dan akan menjadi apa ibadah Haji yang saya jalani ini. Ruh saya sebagai mukmin hanya terpanggil oleh daya religius Baitullah. Dan saya sangat menikmati setiap sesi rangkaian ibadah Haji dengan penuh penghayatan sambil secara hakikat, hati saya berkelana memasuki, mengintip-intip secara hakikat di dalam Baitullah, mencari-cari Allah SWT dan menemui Kanjeng Muhammad Rasulullah SWT, untuk mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ،
لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ

Dalam penghayatan ini, semua cobaan dan godaan dalam menjalankan ibadah Haji dilalui dengan tetap tawakkal dan berserah diri pada Allah di Baitullah. Cobaan yang saya alami misalnya, pecah pembuluh dari bagian hidung hingga mengeluarkan darah (mimisan) karena kekeringan akibat suhu panas yang tidak main-main.

Selain cobaan ada juga godaan untuk selfie dengan beberapa tokoh yang tendanya bertetangga. Ustad Khalid Basalamah, Ustad Syafiq Basalamah yang ceramahnya di Youtube sering viral hanya berjarak 5 meter dari kursi kasur saya, Kang Emil (Ridwan Kamil), Gus Miftah dan pesohor lainnya termasuk para anggota DPR dan Pimpinan Kementerian Agama yang saya amati cukup gesit dan cermat dalam memastikan kenyamanan ibadah jamaah Haji Indonesia, hanya beberapa depah dari tenda tempat saya di Mina istirahat.

Tapi godaan paling besar adalah pemandangan saat melihat wajah bening wanita khas Timur Tengah, Uzbekistan atau Turki yang berseliweran di depan mata.

Untuk menghadapinya saya perbanyak istighfar saja…

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Mengahadapi cobaan, kita tawakkal.

Menghadapi godaan, kita istighfar.

Itu ajah…

Maktab 111, Mina
11 Juli 2022 M/11 Zulhijjah 1443 H

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Tinggalkan Balasan

Back to top button