KOMUNIKASI RUHANI

Berhati-hatilah Dalam Berdoa

Dalam sebuah acara resmi pemerintahan yang pernah saya ikuti, saat acara ditutup dengan do’a, petugas yang membacakan do’a hanya berujar singkat:

“Ya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang tampak… Kami tau Engkau maha mengetahui apa yang yang terbaik bagi kami. Jika kami bermohon pada-Mu tentang suatu hal yang telah Engkau ketahui, itu artinya kami menafikan apa yang Engkau ketahui. Karena itu cukuplah bagi kami bermohon, Ya Allah yang Maha Mengetahui, berilah apa yang terbaik pada kami seperti yang telah Engkau atur terbaik bagi kami. Amin…”

Mendengar do’a singkat dan padat itu, hadirin yang hadir terdiam untuk tidak mengatakan tercengang. Acara usai, hadirin sedikit heboh. Setelah situasi tenang saya ajak pendo’a yang kebetulan seorang perempuan itu berdiskusi.

“Mba, saya terkesan dengan cara Mba tadi memimpin do’a. Hanya saja saya ragu apakah do’a tersebut dikabulkan atau tidak”, saya mulai membuka diskusi.

“Mengapa mesti ragu? Tuhan kan Maha Mengetahui. Kalau kita ragu, kerakaguan itulah penyebab do’a tidak dikabulkan”, jelasnya.

Diskusi kemudian berlangsung hangat dan lama. Hingga saya akhiri dengan pernyataan penutup:

“Bagi saya berdo’a itu seperti mengayuh sepeda. Tujuan adalah harapan yang ingin kita inginkan. Sepeda harus terus dikayuh agar sampai tujuan. Berulang-ulang mengayuh sepeda dengan gerakan serupa. Semakin sering dan cepat mengayuh, semakin segera sampai pada tujuan. Demikian juga dengan berdo’a. Harus disampaikan dengan jelas apa permohonan kita. Permohonan itulah tujuan kita. Permohonan harus sering dan selalu dipanjatkan, agar segera sampai ke tujuan. Bagaimana kita bisa sampai tujuan jika kita sendiri tidak tau kemana tujuan yang hendak dituju?”.

Berdo’a itu wilayah manusia, bukan wilayah Tuhan, itu menjadi titik temu diskusi kami. Sementara terkabul atau tidak sebuah permohonan, itu menjadi urusan Allah SWT. Kendati soal pengabulan itu menjadi urusan Allah SWT, namun Allah SWT telah memberi garansi bahwa setiap do’a pasti akan dikabulkan-Nya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Ghafir: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surah Al Baqarah : 186)

Bagaimana Allah akan mengabulkan permohonan bila kita berdo’a (bermohon) tapi tidak menyebutkan apa yang kita mohonkan? Kembali seperti mengayuh sepeda, bagaimana kita akan sampai ke tujuan bila tidak pernah mengayuh sepeda yang kita tunggangi?

Karena Allah telah berjanji akan mengabulkan setiap permohonan, maka berhati-hatilah dalam bermohon. Kalimat memohon dengan kalimat memerintah dalam berdo’a itu berbeda. Mungkin saja do’a kita selama ini belum terkabul karena dalam berdo’a kita sesungguhnya memerintah Allah, bukan memohon pada Allah.

Misalnya, “Ya Allah, berilah hamba kesehatan”. Bagi saya ini adalah kalimat perintah, bukan kalimat memohon. Tanpa memuji langsung memberi perintah. Beda bila kalimat yang digunakan, “Ya Allah yang Maha pengasih, hamba memohon dapatlah kiranya Engkau memberi kesehatan pada hamba”.

Dalam berdo’a, kita juga sering lupa bahwa Allah memiliki cara untuk mengabulkan permohonan kita. Seringkali kita berdoa memohon sesuatu, langsung terbayang terkabul apa yang diminta.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya saja, Allah SWT mengabulkan semua permohonan dengan 4 cara.

  1. DIA KABUL-kan persis apa yang kita mohon. Semasa sekolah, saya selalu berdoa mohon lulus ujian naik kelas. Saya naik kelas, Allah kabulkan persis apa yang saya mohonkan.
  2. DIA TUNDA mengabulkan apa yang kita mohon. Saat kecil saya bermohon diberi jalan untuk bisa menjelajah Eropa, negeri yang membius fikiran saya. Dia kabulkan do’a saya puluhan tahun kemudian justru saat saya telah beristri. Betapa indahnya jalan-jalan berdua dengan isteri dari pada sendiri.
  3. DIA GANTI apa yang kita mohon dengan suatu yang lebih baik. Saya pernah sangat bermohon agar diluluskan pada tahap akhir seleksi masuk Perwira TNI, tapi tetap tidak lulus. Lima tahun kemudian, saya bekerja sebagai wartawan. Saat meliput perang di Aceh, saya bertemu teman yang saya kenal baik semasa test seleksi masuk Perwira TNI. Dia memimpin sebuah grup kecil yang terus bergerilya keluar masuk hutan di Aceh. Suatu saat kami berkesempatan ngopi bareng. Diapun berujar, “Berbahagialah kau Is, tidak lulus masuk TNI masih bisa berkumpul bersama keluarga. Saya di sini siang malam keluar masuk hutan memburu GAM”. Namun dalam hati saya juga berkata, “Bersyukurlah kawan, kau diberi kesempatan membela negara yang kucintai ini. Membela negara itu sebagian dari iman. Jikapun ditakdirkan mati, itu kematian syahid bagimu”.
  4. DIA UJI apa yang kita mohonkan dalam do’a belum terkabul. Ujian ini bisa menjadi bahan intropeksi bagi kita. Mungkin ada yang keliru dalam materi permohonan, kurang tepat, kurang bijak, kurang santun, atau kekurangan dan kekeliruan lainnya dalam berdo’a memohon sesuatu pada Tuhan seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya. Untuk bagian ini, saya tidak ingin memberi contoh. Cukup dipahami saja makna dan pesan yang ingin saya sampaikan.

Dengan demikian, jelas dan benarlah bahwa Allah SWT mengabulkan semua do’a-do’a hambanya. Dalam keadaan apapun tetaplah bersyukur, berdo’a dan berprasangka baik pada Allah SWT. Sebab hanya karena kita selalu bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya. Dan sebab
dengan berprasangka baik, Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah SWT berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dengan kekuatan do’a itu dalam konteks yang berbeda, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika jutaan umat Islam berkumpul dan berdo’a bersama bermohon satu hal yang sama, seperti yang terjadi pada Aksi Bela Islam 212? Wallahu ‘alam…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..
Back to top button