KOMUNIKASI RUHANI

Apakah Benar Lailatul Qadar Turun pada Malam Hari?

Namanya saja ­­lailatur qadar, pasti malam, bukan siang. Karena lail dalam bahasa Arab artinya malam. Masalahnya adalah, tidak semua negara dan belahan bumi mendapatkan waktu malam yang bersamaan karena perbedaan waktu. Malam di Indonesia, tentunya masih siang di belahan bumi lain seperti Eropa dan Amerika.  Dengan demikian, setidaknya ada 3 asumsi tentang malam lailatul qadar, yaitu:

  1. Lailatul qadar turun hanya sekali ke bumi, jatuh pada daerah tertentu pada malam hari. Artinya, tetap lailatul qadar jatuh tetap pada malam hari, tapi tidak pada seluruh bagian bumi. Itu sebabnya ada istilah Berburu lailatul qadar.
  2. Lailatul qadar turun hanya sekali ke bumi, jatuh pada daerah tertentu pada malam hari tapi juga turun pada daerah lain pada siang hari. Artinya, tetap lailatul qadar jatuh tetap pada malam hari, daerah lain yang mengalami siang hari hanya menerima dampak dari titik awal tempat jatuhnya lailatul qadar. Pemahaman ini menekankan, dimana saja lailatul qadar bisa turun.
  3. Lailatul qadar turun beberapa kali ke bumi, jatuh pada daerah tertentu pada malam-malam yang berbeda. Artinya, lailatul qadar tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Saya tidak dapat membayangkan hal lain di luar 3 perkiraan tersebut kecuali ada pemahaman seperti ini:

  1. Apakah di sisi Allah SWT ada malam dan siang? Sebab, siang dan malam itu bagian dari sisi kehidupan bumi dan makhluk yang hidup di dalamnya.
  2. Semua kuasa Allah SWT, jangan memikirkan suatu yang tidak bermanfaat. Lebih baik pikirkan apa kemuliaan, manfaat dan hikmah lailatul qadar. Yang lebih penting lakukan amalan dan ibadah agar mendapat malam lailatul qadar.

Baiklah… Begini, ada setidaknya 100 ayat tentang berpikir namun hanya ada 5 ayat tentang lailatul qadar. Artinya beriman dan beragama itu juga proses berpikir. Bagaimana ingin menemukan hikmah lailatur qadar jika tidak berpikir bagaimana cara mendapatkannya? Persoalan ini tidak bisa dipikirkan, itu hal lain tapi hendaknya jangan menyerah untuk berpikir. Maka, saya tetap berpikir bahwa hal tersebut di atas fokus pada tema lailatul (malam)-nya saja. Anggap saja memang berpeluang berbeda-beda karena ada faktor malam dan siang pada wilayah bumi yang berbeda-beda. Tapi, bagaimana dengan tema qadar-nya?

Lailatul Qadar, terdiri dari 2 kata, lailatul (malam) dan qadar (ketetapan [Allah SWT]). Ada apa dengan ketetapan (qadar) Allah SWT pada malam seperempat akhir bulan suci Ramadan? Apakah pada malam yang dinantikan sebagai malam yang lebih baik dari 1.000 bulan akan terjadi perubahan takdir seseorang? Apakah takdir bisa berubah? Bagaimana mengubahnya? Kapan waktu yang paling tepat bermohon agar takdir bisa diubah? Siapa yang bermohon? Di mana tempat bermohon? Melalui apa permohonan disampaikan? Bagaimana tata cara permohonan?

Bagaimana menjawab pertanyaan tersebut jika tidak berpikir?

Baiklah… Dalam beragama akhirnya memang kita harus berpikir. Mari berpikir, tetapi…. Siapa yang berpikir? Siapa yang punya pikiran? Kalau jawabannya, Saya! Dapatkah saya berpikir saat tertidur? Dapatkah saya berpikir saat lupa? Dapatkah saya berpikir saat marah? Siapa saya? Ini intinya…

Jadi menurut saya, lailatul qadar sesungguhnya malam dimana ‘Saya’ bukan saya dalam pengertian ‘Saya Iswandi Syahputra’ tapi ‘Saya yang memiliki Iswandi Syahputra melakukan introspeksi, berkomunikasi dengan diri sendiri yang memiliki diri dalam diri sendiri. Berkomunikasi dengan pemilik diri yang bersemayam dalam hati, dengan penuh perhatian dan sangat hati-hati berbicara dengan hati sendiri. Sudah sampai dimana qadar yang kita jalani? Apakah ada yang perlu dievaluasi, diperbaiki, ditingkatkan, dimaafkan, dilupakan, diabaikan, atau diperhatikan.

Setelah evaluasi diri dengan hati-hati dan penuh perhatian, barulah kita bermohon pada Allah SWT pemilik semua jiwa dan hati manusia. Ada proses internalisasi diri baru kemudian melakukan eksternalisasi. Sehingga kebaikan dan kebenaran itu datangnya dari Allah SWT atas ikhtiar diri. Itu ajah…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..
Back to top button