AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Apa Boleh Ustad Berbisnis?

Menurut saya, lebih baik Ustad TIDAK BOLEH berbisnis. Kita boleh berbeda ya, silahkan saja. Mengapa tidak boleh? Ini penjelasannya:

“Jika ada agamawan mencari keuntungan dari kebajikan yang diserukannya. Dan jika ada pedagang menyerukan kebajikan untuk mencari keuntungan, maka… pastilah keduanya dipertemukan oleh kapitalisme.”

Artinya, kalau ada Ustad berdakwah sambil berbisnis, atau menjadikan dakwah untuk berbisnis, atau menjual dakwah untuk berbisnis, atau memanfaatkan dakwah untuk berbisnis, atau bahkan sampai menjual agama, dalil, ayat dan hadis untuk berbisnis, jangan ragu-ragu… pastikan dia seorang pebisnis bukan seorang Ustad. Segera jauhi, tinggalkan pengajiannya, dan cari Ustad lainnya. Di matanya Anda bukan jamaah yang membutuhkan pencerahan ruhani atau pelajaran agama, Anda hanya seorang konsumen. Yang ada di inti kepalanya bukan dakwah, tapi pikiran tentang:

“Bagaimana dengan modal sekecil-kecilnya, distribusi seluas-luasnya, promosi segencar-gencarnya, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”. Cuma itu yang ada di pikirannya.

Iya, benar…. Tapikan ada juga Ustad juga kan bershodaqoh dalam jumlah besar? Benar, tapi shodaqoh itu bisa dihitung masuk dalam biaya produksi, atau biaya distribusi, atau biaya promosi. Tidak seberapa dibanding keuntungan yang diperoleh.

Rasulullah Muhammad SAW kan juga berbisnis, bagaimana?

Benar, tapi Rasulullah SAW tidak mencari keuntungan bisnis dari khutbah, dakwah dan ceramahnya.

Kan kita harus meniru Rasulullah SAW, bagaimana?

Benar, tapi tiru juga gaya hidup sederhana Rasulullah SAW, tiru juga penyabar, penyayang dan sifat amanah Rasulullah. Rasulullah SAW tidak pernah marah-marah karena kekurangan uang, misalnya.

Tapi, jalan pikiran yang agak moderat bisa jadi Ustad boleh berbisnis tapi tidak menggunakan status ke-Ustad-annya untuk berbisnis. Saya punya banyak teman seperti ini, bahkan ada saudara kandung saya juga ada yang seperti ini. Ada teman, pada pagi hingga siang hari  dia buka bengkel las dan disambi jualan madu. Tapi pada sore dan malam dia melayani umat di masjid. Dia memang berilmu karena lulusan sebuah universitas di Timur Tengah. Saudara kandung saya bahkan punya pabrik roti kecil rumahan, pagi sampai sore buat roti, saat ada panggilan dakwah, berdakwah jalan terus. Tapi tidak pernah berdakwah sambal promosi atau menjual roti pada jamaahnya. Dia butuh modal untuk mengembangkan usaha, tidak pernah menggunakan pengaruhnya untuk menghimpun dana jamaah untuk modal usahanya. Dari Ustad kelompok orang-orang kecil ini kita bisa belajar luasnya hati dan pikiran mereka. Sebab, tidak selamanya Ustad besar memiliki hati dan pikiran yang luas.

Mengapa sih Ustad tidak boleh berbisnis terkait statusnya sebagai seorang Ustad? Sini, sini tak kasih cerita. Jadi begini, alkisah…

Sekawanan burung mengadu ke Tuhan. “Wahai Tuhan, kami mau protes. Kami siap diburu oleh pemburu yang menggunakan seragam pemburu. Kami bisa menghindar dari tembakan pemburu berseragam pemburu, karena kami tau pemburu dari seragamnya. Tapi kami kesulitan menghindar, jika pemburu memburu kami dengan menggunakan sorban atau jubah sembari membaca ayat suci. Mereka memberi ceramah kebajikan pada kami.  Kami mengira mereka pendakwah bukan pemburu. Kami mendekat karena ingin mendengar dakwah, bukan untuk diburu”.

Sampai sini paham ya?

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button