AKTUAL, TAJAM, JANGAN DIPERCAYA

Antara Deddy Corbuzier, Tri Suaka, Zidan dan Hilangnya Subscriber

“Para pesohor bisa kaya dan populer karena subscriber, tapi jangan lupa follower dapat meruntuhkannya seketika”.

Saat Deddy Corbuzier (DC) berhasil mewawancara secara esklusif mantan Menkes Siti Fadila Supari melalui podcast miliknya yang membahas soal vaksin dan beberapa hal peka tapi menjadi atensi publik saat itu, saya langsung mbatin, inilah akhir dunia jurnalistik atau ujung dunia talkshow radio dan televisi. Saya kemudian tertarik memilih dan mulai menonton beberapa podcast DC yang saya suka seperti pada wawancaranya dengan KASAD Jenderal TNI Dudung Abdurrahman.

Sebagai pengamat dan peneliti media baru, saya tertarik mencermati berbagai relasi dibalik fenomena seperti ini. Bagi saya, era Youtube memang seperti rute menuju kematian industri hiburan dan berita, termasuk jurnalistik di dalamnya. Pada kasus DC, misalnya saya ajukan 3 saja pembanding sebagai tanda matinya jurnalistik:

  1. Mengapa narasumber mau diwawancarai DC?
  2. Mengapa tim DC jeli menangkap momentum?
  3. Mengapa ada yang menonton?

Karena tiga hal ini, akun podcast DC semakin dimintai banyak netizen dan tentu saja tim DC mendapat banyak keuntungan dari podcast tersebut. Dari sisi ini, DC adalah pelopor yang bisa beradaptasi dengan perubahan. Sebelumnya DC sudah populer melalui media konvensional, dan berpindah serta bertambah popularitasnya lewat saluran media baru yang lebih muda dikelolanya.

Demikian pula dengan Tri Suaka dan Zidan atau penyanyi cover dan Youtuber lainnya. Ini bisa menjadi akhir musik sebagai industri yang terpusat dan terkontrol melalui prinsip kapitalisme lewat dapur rekaman raksasa,  menjadi musik yang menyebar luas di jalanan hanya lewat petikan gitar pengamen, menyelinap masuk ke gendang telinga dan bersemayam dalam ingatan netizen melalu gerak lincah dua jempok di atas layar gadget atau laptop.

Jika DC sebelumnya sudah sukses dalam industri hiburan sebelum berselancar di podcast, Tri Suaka dan Zidan sepertinya justru sukses karena ditopang melalui Youtube. Saat ini ketiganya sukses dan popular lewat saluran media baru dengan berbagai platformnya.

Belajar dari NOKIA dan KODAK, Belajar dari DC, Tri dan Zidan

Kepada mahasiswa saya sering sampaikan ambil pelajaran dari ambruknya raksasa mobile phone (HP), NOKIA atau raksasa kamera photo KODAK. Mereka dua raksasa kuat pada masanya, pada bidangnya. Namun saat ini wafat tanpa iringan duka dan kenangan. Sebagai industri raksasa, harusnya mereka bukan saja bisa bertahan tapi menjadi inisiator perubahan.

Mereka hilang begitu saja bukan karena lemah, kecil, tidak berdaya atau kekurangan modal. Mereka punya segalanya,  tapi mereka hanya tidak punya satu hal: adaptasi.  Mereka tidak bisa beradaptasi dengan perubahan. Raksasa mobil TOYOTA juga menjalani takdir serupa jika tidak bisa beradaptasi dengan kehadiran teknologi mobil listrik.

Dari perspektif ini, kita perlu belajar dari DC, Tri Suaka dan Zidan tentang cara beradaptasi dengan perubahan agar tetap dalam orbit kehidupan. Berubah atau punah, begitu kira-kira…

Tapi, selain belajar kita juga perlu mengambil pelajaran dari DC, Tri Suaka dan Zidan. Pelajaran tentang siapa sebenarnya yang berkuasa penuh dalam jagad alam maya ini. Pelajaran tentang datang dan perginya follower, pelajaran tentang muncul dan tenggelamnya subscriber. Terkait ini, simpelnya ini saya kasih tau rumusnya:

Content is The King, Packaging is The Queen  tapi netizenlah yang berkuasa.

Berbeda dengan content dan packacing  yang dapat dilihat tapi tidak bisa dirasakan, kuasa netizen sebaliknya, tidak bisa dilihat tapi harus bisa dirasakan. Kuasa netizen itu hanya bisa dilihat jika dia muncul sebagai bentuk kemarahan atau penolakan karena konten. Artinya, dalam ngontent pesohor harus menggunakan ‘rasa’. Jangan syur-syur sendiri saja, ingatlah Anda boleh jadi pesohor yang popular, tapi ingat ada netizen yang berdaulat. Salah dalam ngontent, siap berhadapan sama netizen.

Menurut saya, inilah yang terjadi pada DC, Tri Suaka dan Zidan saat ini. Dilaporkan DC harus kehilangan 8 juta follower, sementara Tri Suaka dan ZIdan kehilangan 10 ribu subscriber di Yotube. Mengapa ini terjadi? Karena para pesohor ini tidak memakai rasa dalam ngontent. Atau mati rasa karena merasa rasa-rasanya terasa tidak terasa menyakitkan perasaan netizen. Kontennya melukai perasaan netizen…

Agar bisa keluar dari kehilangan rasa ini, para pesohor yang suka ngontent  perlu mengambil pesan dari frase klasik Minangkabau tentang raso jo pareso, artinya lebih kurang, rasa dan periksa. Gunakan perasaan untuk memeriksa perasaan orang lain sebelum berbicara atau sebelum ngontent. Prinsipnya hati-hati, bukan mata-mata, dada-dada, otak-otak, atau kaki-kaki, tapi hati-hati. Perhatian, bukan, permataan, perdadaan, perotakan atau perkakian, sebab rasa itu letaknya di hati bukan di mata, di dada, di kaki, atau di pikiran. Rasa ini adalah nikmat. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Menjadi pesohor itu nikmat, maka jangan didustakan dengan sekali-kali melukai perasaan netizen. Itu ajah…

ISWANDI SYAHPUTRA

Aku menulis maka aku ada. Aku ada maka aku jalan-jalan. Kusebut nama-MU, maka teringat nama-NYA. Kupungut kata, kukutip kalimat, kujahit jadi paragraf hingga tersusun tulisan untuk dibaca. Apa yang sudah kutulis menjadi teks yang otonom. Dan pembaca adalah penikmat independen yang bebas memberi makna dari teks yang kutulis. Selamat membaca..

Related Articles

Back to top button